Tanggal :April 22, 2021

Ringkasan Materi “Indonesia Merdeka” – Bab 5 Halaman 66-121 Kelas 11 (XI) Semester 2

MGID

DARI RENGHASDENGKLOK HINGGA PEGANGSAAN TIMUR

Teks proklamasi dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pangesahan Timur No. 56 Jakarta. Bagaimana proses terjadinya proklamasi kemerdekaan? Berikut ulasannya.

  1. Jepang Kalah Perang dengan Sekutu

Tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 kota Hirosima dan Nagasaki di bom atom oleh sekutu. Ledakannya seperti gunung api yang jatuh ke bumi. Setelah itu tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah pada sekutu tanpa syarat karna faktor pengeboman kota Hirosima dan Nagasaki. Sebelum Jepang menyerah pada sekutu, komando tentara Jepang wilayah selatan memberikan dan menyepakati kemerdekaan Indonesia tanggal 7 September 1945. Tanggal 7 Agustus 1945 dibentuk Dokuritsu Junbi Inkai atau Panitian Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) di setujui oleh Jendral Terauchi dan diketuai oleh Ir. Soekarno dan wakil Drs. Moh Hatta dan tugasnya melanjutkan BPUPKI. Beranggotakan dengan 21 orang dan berasal dari berbagai daerah.

1.Jawa12 Wakil
2.Sumatra3 Wakil
3.Sulawesi2 Wakil
4.Kalimantan1 Wakil
5.Sunda Kecil1 Wakil
6.Maluku1 Wakil
7.Golongan penduduk Cina1 Wakil

Tanggal 9 Agustus 1945, Jendral Terauchi memanggil Sukarna, Muh. Hatta, dan Rajiman Wedyodiningrat untuk pergi ke Dalat, Saigan (salah satu pusat tentara Jepang). 12 Agustus 1945 Jendral Terauchi mengucapkan selamat atas terpilihnya Sukarno dan Muh. Hatta sebagai ketua dan wakil ketua PPKI. 14 Agustus 1945 Sukarno, Muh. Hatta dan Rajiman Wedyodiningrat kembali ke Jakarta.

  1. Perbedaan Pendapat dan Penculikan

Tanggal 15 Agustus merupakan hari yang menegangkan bagi Jepang dan Indonesia, karena itu merupakan titik akhir melajutkan PD II.  Para pejuang melancarjan gerakan “bawah tanah”. Sutan Syahir merupakan tokoh muda yg mengetahui beriya penyerahan Jepang terhadap sekutu. Hari rabu 15 Agustus 1945 pada pukul 22.00 WIB, para pemuda dipimpin oleh Wikana, Sukarni, dan Darwis datang ke rumah Sukarno di Jalan Pangesan 56, Jakarta, memaksa memproklamasikan kemerdekaan paling lambat tanggal 16 Agustus 1945. Para pemuda gagal memaksa Sukarno dan Golongan Tua. Sekitar pukul 24.00 WIB, diadakan pertemuan di jalan Ciki, Jakarta. Para pemuda yang datang ialah Sukarni, Yusuf Kunto, Chaerul Saleh, dan Shodanco Singgih yang di tunjuk memimpin pertemuan tersebut.

Setelah mendapat pinjaman perlengkapan dari Markas Peta, Singgih bersam penembak mahir Sutrisno, Sukarni, dan Wikana, dan dr. Muwardi kemudian pergi menuju rumah Moh Hatta untuk ikut keluar kota. Kemudian para pemuda ke rumah Sukarno dan ia setuju asal Fatmawati, Guntur, dan Moh. Hatta ikut. Baru sekitar pukul 04.00 WIB tanggal 16 Agustus 1945 para pemuda dan rombongan menuju Rengasdengklok. Daerah ini dipilih karena terpencil yaitu 15 km dari Kedunggede, Karawang dan adanya hubungan baik antara Daidan Peta Purwakarta dan Daidan Jakarta. Ketika sampai mereka disambut oleh Shodanco Subeno dan Affan. Mereka di tempatkan di rumah Kie Song yaitu simpati perjuangan bangsa Indonesia.

Gagal memaksa Sukarno menyatakan kemerdekaan lepas campur tangan Jepang. Tetapi Sukarno akan memproklamasikan kemerdekaan jika sudah kembali ke Jakarta  Lalu Sukarno bersedia memproklamasikannya sekitar pukul 10.00 WIB. Pertemuan PPKI tanggal 16 Agustus 1945 mengalami ketegangan, karena ketua dan wakilnya tidak ada di tempa. Ahmad Subarjo lalu mencarinya. Akhirnya telah terjadi kesepakatan antara Wikan, Ahmad Subarjo ditunjukan dan diantarkan Ke Rengasdengklok oleh Yusuf Kunto.

Ahmad Subarjo tibadi Rengasdengklok pukul 17.30 untuk menjemput rombongan Sukarno. Kecurigaan menyelimuti para pemuda. Akhirnya Ahmad Subarjo memberika Jaminan jika besok 17 Agustus 1945 paling lambat pukul 12.00 tidak ada kemerdekaan taruhannya nyawa Ahmad Subarjo. Dizinkan oleh Shodanco Subeno untuk kembali ke Jakarta.

  1. Perumusan Teks Proklamasi hingga Pagi

Rombongan Sukarno dan Golongan Tua menuju kediaman Nishimura, untuk mengadakan rapat persiapan kemerdekaan. Sukarno juga tidak mengharap bantuan Jepang. Sukarno kembali ke rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1. Rombongan untuk berkumpul dengan tokoh nasional dan seluruh anggota PPKI, para pemimpin pemuda, pemimpin pergerakan, dan beberapa anggota Chou Sangi On yang ada di Jakarta. Mereka berjumalah 40-50 orang. Rumah laksamana Maeda dianggap aman dari anggota Rikugun (angkatan Darat Jepang/Kampetai) yang ingin menggagalkan proklamasi kemerdekaan. Maeda adalah kepala perwakilam extra-teritorial yang harus dihormati Rikugun.

Setelah tiba di rumah laksamana Maeda, lalu Sukarno dan Muh. Hatta diantarkan menemui Gunseikan Yamato (Kepala Pemerintahan Militer Jepang). Tetapi ia menolah menerima Sukarno-Hatta pada waktu tengah malem. Dengan ditemani Maeda, Shigetada Nishijirma dan Tornego Yodshizumi serta Miyoshi sebagai penterjemah, mereka menemui Somuboco (Mayor Jendral) Otoshi Nishimura (Direktur/Kepala Departemen Umum Pemerintahan Jepang), dengan maksud menjajaki sikapnya terhadap pelaksanaan proklamasi. Pertemuan tersebut tidak dicapai kata sepakat anta Sukarno Hatta denganpihak Nishimura. Pihak Sukarno ingin menekankan kepada Nishimura untuk menyerahkan masalah kemerdekaan kepada PPKI. Pihak Nishimura menegaskan garis pangkiam tentara ke-XVI di jawa, bahwa tidak diperbolehkan lagi mengubah status quo.

Nishimura melarang rapat PPKI untuk pelaksanaan kemerdekaan RI. Dapat disimpulkan oleh Sukarno-Hatta bahwa tidak ada gunanya membicarakan kemerdekaan dengan pihak Jepang, tetapi hanya ingin untuk tidak menghalangi kemerdekaan proklamasi Indonesia.

Setelah pertemuan itu, Soekarno dan Moh. Hatta kembali kerumah Maeda. Diruang makan Maeda, dirumuskanlah naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Ketika peristiwa itu berlangsung Maeda tidak hadir, tetapi Miyosi sebagai orang kepercayaan Nashimura bersama Sukarni, Sudiro, dan B. M. Diah menyaksikan Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebarjo membahas perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Soekarno pertama kali menuliskan kata pernyataan  “PROKLAMASI”. Soekarno kemudian bertanya kepada Moh. Hatta dan Ahmad Soebarjo. “ Bagaimana bunyi rancangan pada draft pembuka UUD?” kedua orang yang ditanya pun tidak ingat persis. Ahmad Soebarjo kemudian menyampaikan kalimat “kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia”. Moh. Hatta menambahkan kalimat : “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”. Soekarno menuliskan, “Jakarta, 17-8-’45 wakil-wakil bangsa Indonesia”, sebagai penutup.

Pukul 04.00 WIB dini hari, Soekarno minta persetujuan dan minta tanda tangan kepada semua yang hadir sebagai wakil-wakil bangsa Indonesia. Para pemuda menolak dengan alasan sebagian yang hadir  banyak yang menjadi kolabulator Jepang. Sukarni mengusulkan agar teks proklamasi ditanda tangani oleh 2 orang tokoh, yakni Soekarno dan Moh. Hatta, atas nama bangsa Indonesia. Usul Sukarni diterima. Dengan beberapa perubahan yang telah disetujui, maka konsep itu kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik.

Demikian pertemuan dini hari itu menghasilkan naskah Proklamasi. Agar seluruh rakyat Indonesia mengetahuinya, naskah itu harus disebarluaskan. Sukarni mengusulkan agar naskah tersebut dibacakan di Lapangan Ikada, yang telah dipersiapkan bagi berkumpulnya masyarakat Jakarta untuk mendengar pembacaan naskah proklamasi. Tetap Soekarno tidak setuju, karena tempat itu adalah tempat umum yang dapat memancing bentrokan antara rakyat dengan militer Jepang. Beliau sendiri mengusulkan agar proklamasi dilakukan di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Usul tersebut disetujui dan naskah proklamasi dibacakan bersama Hatta di tempat itu pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 di tengah-tengah bulan Ramadhan (bulan Puasa).

  1. Pembaca Proklamasi Pukul 10.00 Pagi

Pada pukul 5 pagi tanggal 17 Agustus 1945, para pemimpin dan pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda dengan di liputi kebanggaan. Mereka telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan di rumah Sukarno diJl. Pegangsaan Timur No. 56 pada pukul 10 pagi. Sebelum pulang, Moh. Hatta berpesan kepada B.M. Diah untuk memperbanyak teks Proklamasi dan menyiarkannya ke seluruh dunia. Semua alat komunikasi di gunakan untuk menyambut proklamasi. Pamflet, pengeras suara, dan mobil-mobil di kerahkan ke segenap penjuru kota.

Tanpa diduga, pada hari itu barisan pemuda berbondong-bondong menuju Lapangan Ikada. Para pemuda datang ke tempat itu, karena informasi yang disampaikan dari mulut ke mulut bahwa Proklamasi akan di selenggarakan di Lapangan Ikada. Rupanya Jepang telah mencium kegiatan para pemuda malam itu, sehingga mereka berusaha untuk menghalang-halanginya. Lapangan Ikada telah dijaga oleh pasukan Jepang yang bersenjata lengkap.

Pada pagi hari itu juga, rumah Sukarno dipadati oleh sejumlah massa. Untuk mejaga keamanan upacara pembacaan proklamasi, dr. Muwardi meminta Latief Hendraningrat beserta beberapa anak buahnya untuk berjaga-jaga di sekitar rumah sukarno. Sementara itu, Walikota Jakarta, Suwiryo memerintahkan kepada Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan seperti mikrofon. Sedangkan Sudiro memerintahkan kepada S. Suhud untuk menyiapkan tiang bendera. S.Suhud mendapatkan bendera Merah Putih dari ibu Fatmawati. Bendra dijahit ibu Fatmawati sendiri dan ukurannya sangat besar (tidak standar). Bendera Merah Putih yang di jahit Fatmawati dikenal dengan bendera pusaka. Sejak tahun 1969 tidak lagi di kibarkan dan diganti dengan bendera duplikat. Tokoh-tokoh yang hadir, antara lain Mr. A. A. Maramis, dr. Buntaran Martoatmojo, Mr. Latuharhary, Abikusno Cokrosuyoso, Ki Hajar Dewantara, Dll.

Acara yang di rencanakan pada upacara besejarah itu adalah; Pertama pembaccan teks proklamasi; kedua, pengibaran bendera Merah Putih; dan Ketiga, sambutan walikota Suwiryo dan dr. Muwardi dari keamanan.

  1. Kebahagiaan Rakyat atas Kemerdekaan Indonesia

Pada tanggal 22 Agustus, Jepang akhirnya secara resmi mengumumkan penyerahan kepada Sekutu. Baru pada bulan September 1945, Proklamasi diketahui wilayah-wilayah yang terpencil. Keempat penguasa kerajaan yang ada di Jawa Tengah menatakan dukungan mereka kepada Republik, yaitu Yogyakarta, Surakarta, Pakualaman, dan Mangkunegaraan.Euforia revolusi segera melanda negara ini, khususnya kaum muda yang merespon kegairahan dan tantangan kemerdekaan.

Laskar Masyumi dan Barisan Hizbullah, menerima banyak pejuang baru dan ikut bergabung dalam kelempok-kelempok bersenjata islam lainnya yang umumnya disebut Barisan Sabilillah, yang kebanyakan dipimpin oleh paea Kiai.

Proklamasi kemerdekaan akan disebarluaskan melalui radio, tetapi Jepang menentang upaya penyiaran tersebut, dan malah memerintahkan agar para pernyiar meralat berita proklamasi sebagai sesuatu kekeliruan. Oleh karna itu, pada tanggal 20 Agustus 1945 pemancarnya disegel dan parapegawainya dilarang masuk. Mereka kemudian membuat pemancar baru di Menteng 31. Di samping menggunakan radio, para wartawan juga menybar luaskan berita proklamasi melalui media cetak.Tanggal 3 September 1945, para pemuda mengambil alih kereta api termasuk bengkel di Manggarai. Tanggal 5 September 1945, Gedung Radio Jakarta dapat dikuasai. Tanggal 11 September 1945, seluruh Jawatan Radio berhasil dikuasai oleh Republik. Oleh karena itu, tanggal 11 September dijadikan hari lahir Radio Republik Indonesia (RRI).

Tanggal 19 Agustus 1945 Sri Sultan Hamengkubuwana IX dan Sri Paku Alam VIII telah mengirim kawat ucapan selamat kepada Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta atas berdirinya Negara Republik Indonesia dan atas terpilihnya dua tokoh tersebut sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Kemudian untuk mempertegas sikapnya, Sri Sultam Hamengkubuwana IX dan Sri Paku Alam VII pada tanggal 5 September 1945 mengeluarkan amanat antara lain sebagai berikut :

  1. Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat bersifat kerajaan dan merupakan daerah istimewa dari Negara Indonesia.
  2. Sri Sultan sebagai kepala daerah dana memegang kekuasaan atas Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat.
  3. Hubungan antara Negeri Ngayogyakarta Hadiningrat dengan pemerihtah pusat Negara RI bersifat langsung. Sultan selaku Kepala Daerah Istimewa betanggung jawab kepada Presiden.

Amanat Sri Paku Alam VIII sama dengan amanat Sri Sultan Hamengkubuwana IX. Hanya saja kata Sri Sultan Hamengkubuwana IX’ diganti dengan ‘Sri Paku Alam VIII’ dan ‘Negeri Ngayogyakarta Hadininggrat’ Diganti dengan ‘Negeri Paku Alaman’.

Memasuki bulan september 1945 di surabaya terjadi perebutan senjata di gudan Don Bosco. Rakyat surabaya juga merebut marks pertahanan jepang di jawa timur, serta pangkalan Angkatan Laut di ujung sekaligus merebut pabrik pabrik yang tersebar di sana

Pada tanggal 19 September 1945, seorang  bernama ploegman di bantu kawan kawannya mengibarkan bendera merah putih biru di atas Hotel Yamato. Residen sudirman segera memperingatkan agar ploegman dan kawan kawannya menurunkan bendara tersebut. Peringatan itu tidak mendapat tanggapan.hal ini telah mendorong kemarahan para pemuda surabaya. Para pemuda surabaya kemudian menyerbu Hotel Yamato. Beberapa pemuda berhasil memanjat atap hotel dan menurunkan bendara merah putih biru, kemudian merobek bagian birunya, setelah itu, bendera tersebut di kibarkan kembali sebagai bendera merah putih.

Indonesia telah merdeka paada tanggal 17 agustus. Bangsa indonesia dimensin sosial, sebagai rakyat yang merdeka tidak lagi merupakan kelompok 2 atau 3, tetapi sederajat dengan masyarakat dan bangsa lain.

MENGANALISIS TERBENTUKNYA NKRI

  1. Pengesahan UUD 1945 Dan Pemilihan Presiden Dan Wakil Presiden

Pada tanggal 18 Agustus 1945, PPKI melakukan siding yang menghasilkan persetujuan dan pengesahan UUD ( Undang Undang Dasar ), yang kemudian  dikenal sebagai UUD 1945. Sebelum konsep itu disahkan, atas prakarsa Moh.Hatta, berdasarkan pesan dari tokoh Kristen di Indonesia Bagian Timur, sila pertama dasar negara yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yang berbunyi :Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya:, diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Setelah proklamasi, PPKI melakukan rapat pertama di Pejambon (sekarang dikenal sebagai gedung pancasila). Sekitar pukul 11.30, siding pleno dibuka di bawah pimpinan sukarno. Kemudian dilaksanakan acara pemandangan umum, yang dilanjutkan dengan pembahasan bab demi bab dan pasal demi pasal. Sidang dilanjutkan dengan pemilihan presiden dan wakil presiden. Sebagai dasar hukum pemilihan presiden dan wakil presiden tersebut, harus disahkan dulu pasal 3 dari aturan peralihan. Ini menandai untuk pertama kalinya presiden dan wakil presiden dipilih oleh PPKI.

  1. Pembentukan Departemen Dan Pemerintahan Daerah

Sidang PPKI dilanjutkan kembali pada tanggal 19 Agustus 1945. Acara yang pertama adalah membahas hasil kerja panitia kecil yang dipimpin oleh Otto Iskandardinata. Sebelum acara dimulai, presiden Sukarno ternyata telah menunjuk Ahmad Subarjo, Sutarjo Kartohardikusumo, dan Kasman Singodimejo sebagai panitia kecil yang ditugasi merumuskan bentuk departemen bagi pemerintahan RI, tetapi bukan personalianya (pejabatnya).

Otto Iskandardinata menyampaikan hasil kerja panitia kecil yang dipimpinnya. Hasil keputusannya tentang pembagian wilayah NKRI menjadi delapan Provinsi, yaitu sebagai berikut:

  1. JawaTengah
  2. Jawa Timur
  3. Borneo (Kalimantan)
  4. Sulawesi
  5. Maluku
  6. Sunda Kecil
  7. Sumatra

Di samping delapan wilayah tersebut, masih ditambah daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Surakarta. Setelah itu, sidang dilanjutkan mendengarkan laporan Ahmad Subarjo, mengenai pembagian departemen atau kementrian. Adapun hasil yang disepakati, NKRI terbagai atas 12 Departemen sebagai berikut :

  1. Kementrian Dalam Negeri
  2. Kementrian Luar Negeri
  3. Kementrian Kehakiman
  4. Kementrian Keuangan
  5. Kementrian Kemakmuran
  6. Kementrian Kesehatan
  7. Kementrian Pengajaran
  8. Kementrian Sosial
  9. Kementrian Pertahanan
  10. Kementrian Penerangan
  11. Kementrian Perhubungan
  12. Kementrian Pekerjaan Umum

Di samping itu juga ada kementrian Negara.

  1. Pembentukan Badan-Badan Negara

PPKI kembali mengadakan siding pada tanggal 22 Agustus 1945. Dalam sidang ini, diputuskan mengenai pembentukan komite nasional seluruh Indonesia dengan pusatnya di Jakarta. Komite nasional dibentuk sebagai penjelmaan tujuan dan cita-cita bangsaIndonesia untuk menyelenggarakan kemerdekaan Indonesia yang berdasar kedaulatan rakyat.

KNIP ( Komite Nasional Indonesia Pusat ) diresmikan dan anggota-anggotanya dilantik pada tanggal 29 Agustus 1945. Pelantikan ini dilansungkan di gedung kesenian pasar baru, Jakarta. Sebagai ketua KNIP adalah Mr. Kasman Singodimejo, dengan beberapa wakilnya, yakni Sutarjo Kartohardikusumo, Mr. Laturharhary dan Adam Malik.

Tanggal 16 Oktober 1945, diselenggarakan sidang KNIP yang bertempat di Gedung Balai Muslimin Indonesia, Jakarta. Sidang ini dipimpin oleh Kasman Singodimejo. Dalam sidang ini juga diusulkan kepada presiden agar KNIP Ndiberi hak legislatife selama DPR Bdan MPR belum terbentuk. Berdasarkan usul-usul dalam sidang tersebut, maka wakil presiden selaku wakil pemerintah, mengeluarkan maklumat yang lazim disebut maklumat wakil presiden No. X. Bunyi maklumat itu sebagai berikut :

  1. Pembentukan Kabinet

Kabinet RI yang pertama dibentuk oleh presiden Sukarno pada tanggal 2 September 1945 terdiri atas para menteri sebagai berikut :

  1. Menteri Dalam Negeri A.A. Wiranata Kusumah
  2. Menteri Luar Negeri Ahmad Subarjo
  3. Menteri Keuangan A.A. Maramis
  4. Menteri Kehakiman Mr. Supomo
  5. Menteri Kemakmuran Surakhmad Cokroadisuryo
  6. Menteri Keamanan Rakyat Supriyadi
  7. Menteri Kesehatan Buntaran Martoatmojo
  8. Menteri Pengajaran Ki Hajar Dewantara
  9. Menteri Penerangan Amir Syarifudin
  10. Menteri Sosial Iwa Kusumasumantri
  11. Menteri Pekerjaan Umum Abikusno Cokrosuyoso
  12. Menteri Perhubungan Abikusno Cokrosuyoso
  13. Menteri Negara Wahid Hasyim
  14. Menteri Negara M. Amir
  15. Menteri Negara R.M. Sartono
  16. Menteri Negara Otto Iskandardinata
  17. Pembentukan Berbagai Partai Politik

Sidang PPKI tanggal 22 Agistus 1945 juga memutuskannya adanya pembentukan partai politik nasional yang kemudian terbentuk PNI (Partai Nasional Indonesia). BPKNIP mengusulkan perlu dibentuknya partai-partai politik, yang kemudian ditidak lanjuti oleh Wakil Presiden dengan maklumat pada tanggal 3 Nopember 1945. Setelah dikeluarkan maklumat iti, berdirilah partai-partai politik di NKRI.

Beberapa partai politik yang kemudian terbentuk, misalnya :

  1. Masyumi, berdiri tanggal 7 November 1945, di pimpin oleh dr. Sukiman Wiryosanjoyo.
  2. PKI (Partai Komunis Indonesia) berdiri tanggal 7 November 1945 dipimpin oleh Mr.Moh.Yusuf. Oleh tokoh-tokoh komunis,sebenarnya pada tanggal 2 Oktober 1945 PPKI telah didirikan.
  3. PBI (Partai Buruh Indonesia), berdiri tanggal 8 November 1945 dipimpin oleh Nyono.
  4. Partai Rakyat Jelata,berdiri tanggl 8 November 1945 dipimpin oleh Sutan Dewanis.
  5. Parkindo (Partai Kristen Indonesia),berdiri tanggal 10 November 1945 dipimpin oleh Dr.Prabowinoto.
  6. PSI (Partai Sosial Indonesia), berdiri tanggal 10 November 1945 dipimpin oleh Amir Syarifuddin.
  7. PRS (Partai Rakyat Sosial),berdiri tanggal 10 November 1945 dipimpin oleh Sutan Syahrir.
  8. PKRI (Partai Katholik Rebublik Indonesia), berdiri tanggal 8 Desember 1945.
  9. Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia, berdiri tanggal 17 Desember 1945 dipimpin oleh JB Assa.
  10. PNI (Partai Nasional Indonesia), berdiri tanggal 29 Januari 1946. PNI merupakan penggabungan dari Partai Rakyat Indonesia (PRI),Gerakan Rebublik Indobesia, dan Serikat Rakyat Indonesia, yang masing-masing sudah berdiri dalam bulan November dan Desember 1945.
  11. Komite van Aksi dan Lahirnya Badan-badan Perjuangan

Sukarni dan Adam Malik membentuk Komite van Aksi yang dimaksudkan sebagai gerakan yang bertugas dalam pelucutan senjata terhadap sendadu Jepang dan merebut kantor-kantor yang masih diduduki Jepang. Munculnya Komite van aksi kemudian disusul dengan lahirnya berbagai badan perjuangan lainnya di bawah komite van aksi seperti API (Angkatan Pemuda indonesia) ,BARA (Barisan Rakyat Indonesia) dan BBI (Barisan Buruh Indonesia). Di Surabaya muncul BBI pada tanggal 21 Agustus 1945.Kemudian pada tanggal 25 Agustus 1945, dibentuk angkatan Muda oleh Sumarsono dan Ruslan Wijayasastra.Kedua tokoh ini kemudian membentuk Angakatan Muda dan Pemuda di PRI (Pemuda Republik Indonesia) bersama Bung Tomo pada tanggal 23 September.

Bahkan orang-orang luar Jawa yang berada di Jawa membentuk badan perjuangan seperti KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi) dan PIM (Pemuda Indonesia Maluku). Kemudian muncul pula badan-badan perjuangan yang lebih bersifat khusus, misalnya TP (Tentara Pelajar), TGP (Tentara Genie Pelajar) dan TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar).Selanjutnya berkembang pula kelaskaran.

Badan-badan perjuangan juga berkembang di luar Jawa, antara lain sebagai berikut.

  1. Di Aceh terdapat API (Angkatan Pemuda Indonesia) yang dipimpin oleh Syamaun Gaharu dan BPI (Barisan Pemuda Indonesia) kemudian menjadi PRI (Pemuda Republik Indonesia) yang dipimpin oleh A.Hasyim.
  2. Di Sumatera Utara terdapat Pemuda Republik Andalas.
  3. Di Sumatera Barat terdapat Pemuda Andalas dan Pemuda Republik Indonesia Andalas Barat.
  4. Di Lampung terdapat API (Angkatan Pemuda Indonesia) yang dipimpin oleh Pangeran Emir Mohammad
  5. Di Bengkulu terdapat PRI (Pemuda Republik Indonesia) dipimpin oleh Nawawi Manaf.
  6. Di Kalimantan Barat terdapat PPRI (Pemuda Penyongsong Republik Indonesia). Tokoh-tokohnya,antara lain Musani Rani dan Jayadi Saman.
  7. Di Kalimantan Selatan terdapat PRI (Persatuan Rakyat Indonesia) yang dipimpin oleh Rusbandi.
  8. Di Bali terdapat AMI (Angkatan Muda Indonesia) dan PRI (Pemuda Republik Indonesia).
  9. Di Sulawesi Selatan terdapat PPNI (Pusat Pemuda Nasional Indonesia) yang dipimpin oleh Manai Sophian, AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia),Pemuda Merah Putih,dan Penunjang Republik Indonesia.

Dengan munculnya badan-badan perjuangan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa diseluruh tanah air telah siap menggelorakan revolusi untuk membersihkan kekuatan Jepang dari Indonesia.

  1. Lahirnya Tentara Nasional Indoesia

Sebagai negara yang wilayahnya luas,tentara mutlak diperlukan sebagai benteng pertahanan.Sebutan TNI (Tentara Nasional Indonesia), lebih populer dengan sebutan ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).

  • Badan Keamanan Rakyat

Beberapa minggu setelah proklamasi kemerdekaan, Presiden Sukarno masih bersikap hari-hati. Hal ini berkaitan dengan sikap jepang yang tidak senang kalau terjadi perubahan status que (dari negara jajahan menjadi negara merdeka), apalagi sampai memiliki tentara. Sejak Jepang menyerah kepada Sekutu, Jepang harus menjaga indonesia agar jangan sampai terjadi perubahan sampai Sekutu tiba di Indonesia. Sikap keras dan ketidaksenangan Jepang terhadap Indonesia, Misalnya melucuti persenjataan dan sekaligus membubarkan PETA pada tanggal 18 Agustus 1945. Jepang Khawatir Peta akan menjadi tentara Jepang.

Sampai akhir bulan Agustus 1945, sikap hati-hati Soekarno masih tetap dipertahankan. Hal ini terbukti pada waktu diadakan sidang PPKI tanggal 22 Agustus 1945.Untuk menghadapi situasi dalam sidang itu diputuskan, untuk pembentukan BKR (Badan Keamanan Rakyat). BKR merupakan bagian dari BPKKP (Badan Penolong Keluarga Korban Perang).Tujuannya dibentuknya BKR untuk memelihara keselamatan masyarakat dan keamanan di berbagai wilayah.

  • Tentara Keamanan Rakyat

Sampai akhir bulan September 1945, ternyata Indonesia belum memilikikesatuan dan organisasi ketentaraan secara resmi dan profesional.Presideb Sukarno dan wakil Presiden Moh.Hatta belum membentuk kesantuan tentara. BKR bukan merupakan kesatuan bersenjata yang bersifat Nasiaonal.Para pemuda belum puas dengan keberadaan BKR.Oleh karena itu,badan –badan perjuangan terus mengadakan perlawanan terhadap kekuatan Jepang.

Angkatan Perang Inggris yang tergabung dalam SEAC (South Eeast Asia Command) mendarat di Jakarta pada tanggal 16 September 1945. Pasyukan ini dipimpin Laksamana Muda Lord Lous Mountbatten yang mendesak pihak jepang untuk mempertahankan status que di Indonesia. Indonesia masih di pandang sebagai daerah Jajahan seperti pada masa-masa sebelum 17 Agustus 1945. Pada tanggal 5 Oktober 1945, pemerintah mengeluarkan maklumat yang berbunyi sebagai berikut  “Untuk Memperkuat Perasaan Keamanaan Umum,maka diadakan suatu Tentara Kemanan Rakyat’’.

Personalia pemimpin TKR ternyata belum mantab. Hal ini terutama disebabkan oleh tidak munculnya tokoh Supriyadi. Supriyadi hilang secara misterius sejak berakhirnya pemberontakan Peta di Blitar pada Februari 1945.Oleh karena itu, pada tanggal 20 Oktober 1945 di umumkan kembali pengangkatan pejabat-pejabat pimpinan dilingkungan TKR.

Susunan pimpinan TKR yang baru sebagai berikut.Mentri Keamanan Rakyat ad interim:

  • Pimpinan Tertinggi TKR: Supriyadi
  • Kepala Staf Umum TKR: Urip Sumoharjo

Ternyata, Supriyadi tidak kunjung datang. Oleh karena itu, secara operasional kepemimpinan yang aktif dalam TKR adalah Urip Sumoharjo.Ia memilih markas besar TKR di Yogyakarta dan membagi TKR dalam 16 Divisi. Seluruh Jawa dan Madura Dibagi dalam 10 divisi dan Sumatera di badi 6 divisi.

Pada tanggal 12 November 1945,di adakan pemilihan pemimpin tertinggi TKR yang baru.Dalam Rapat pemilihan itu dihadiri oleh para Komandan Divisi, Sri Sultan Hamengkubuwana IX, dan Sri Mangkunegoro X. Rapat dipimpin oleh Urip sumaharjo. Dalam rapat itu disepakati untuk mengangkat Kolonel Sudirman,Panglima Divisi V Banyumas sebagai Panglima Besar TKR dan sebagai kepala Staf , disepakati mengangkat Urip Sumoharjo. Namun pengangkatan dan pelantikan Kolonel Sudirman baru dilaksanakan pada tanggal 18 Desember 1945, Setelah pertempuran Ambarawa selesai.

  • Dari TKR, TRI, ke TNI

TKR dengan sebutan keamanan rakyat, dinilai hanya merupakan kesatuan yang menjaga keamanan rakyat yang belum menunjukkan sebagai suatu kesatuan angkatan bersenjata yang mempu melawan musuh dengan perang bersenjata. Jenderal sudirman ingin meninjauu susunan dan tatat kerja TKR. Pemerintah kemudian mengeluarkan Penetapan pemerintah NO.2/SD 1946 atas prakarsa Markas Tertinggi TKR pada tanggal 1946 isinya tentang perubahan Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan Rakyat dan Kementrian Keamanan Rakyat menjadi Kementrian Pertahanan. Belum genap satu bulan TKR diganti dengan TRI (Tentara  Republik Indonesia). berdasarkan Maklumat Pemerintah pada tanggal 26 Januari 1946 ditegaskan bahwa TRI merupakan tentara rakyat, tentara kebangsaan, atau tentara nasional.

Didalam lingkungan Markas Tertinggi, TRI kemudian di sempurnakan dengan dibentuknya TRI Angkatan Laut yang kemudian dikenal dengan ALRI (Angkatan Laut republik Indonesia) dan TRI Angkatan Udara yang ikenal sebagai AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia).

Tanggal 17 Mei diadakan beberapa perubahan organisai, meliputi :

Lingkungan Markas Besar :
– Panglima Besar : Jenderal Sudirman
– Kepala Staf Umum : Letnan Jenderal Urip Sumoharjo

Pengurangan jumlah divisi :
– Jawa-Madura dari 10 divisi menjadi 7 divisi ditambah 3 brigade di Jawa Barat, dan
– Sumatera semula 6 ivisi menjadi 3 divisi.

Dalam Kementrian Pertahanan :
– Dibentuk direktorat Jenderal bagian militer, yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Sudibyo.
– Dibentuk biro khusus yang menangani badan-badan perjuangan dan kelaskaran.

Disamping Tentara resmi TRI, ALRI, dan AURI masih ada laskar-laskar. Kesatuan kelaskaran lebih condong kepada induk partainya yang seideologi dan belum tentu searah dengan TRI. Sehubungan dengan kenyataan itu pada tanggal 5 Mei 1947, Presiden mengeluarkan dekrit yang berisi tentang pembentukan panitia yang di sebut Panitia Pembentukan Organisasi Tentara Nasional yang dipimpin ileh Presiden Soekarno.

Setelah panitia itu bekerja,  akhirnya keluar penetapan Presiden tentang pembentukan TNI (Tentara Nasional Indonesia) Pada tanggal 3 Juni 1947, Secara resmi diakui berdirinya TNI. Dalam organisasi ini dimiliki TNI Angkatan Darat (TNI AD), TNI Angkatan Laut (TNI AL), dan TNI Angkatan Udara (TNI AD) yang di sebut ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).

MENELADANI PERJUANGAN PARA TOKOH PROKLAMASI

  1. Soekarno

Soekarno atau Bung Karno, lahir di Surabaya tanggal 6 Juni 1901. Sudah aktif dalam berbagai pergerakan sejak menjadi mahasiswa di Bandung. Tahun 1927, mendirikan PNI bersama kawan-kawannya. Pada zaman Jepang, ia pernah menjadi ketua Putera, Chuo Sangi In dan PPKI, serta menjadi anggota BPUPKI.

Bersama Moh. Hatta, Soekarno menjadi tokoh sentral yang terus di desak oleh para pemuda agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sampai akhirnya, beliau harus diungsikan ke Rengasdengklok. Sepulangnya dari Rengasdengklok, beliau bersama Bung Hatta merumuskan naskah Proklamasi dan menuliskannya pada secarik kertas dan mendapat kepercayaan untuk menandatanganinya.

Tanggal 17 Agustus 1945, peranan Soekarno semakin penting. Secara tidak langsung ia terpilih menjadi tokoh nomor satu di Indonesia. Soekarno wafat pada tanggal 21 Juni 1970 dan dimakamkan di Blitar.

  1. Moh. Hatta

Beliau dilahirkan di Bukittinggi tanggal 12 Agustus 1902. Beliau menjadi salah seorang pemimpin dan ketua perhimpunan Indonesia di negeri Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi salah seorang pemimpin PUTERA, menjadi anggota BPUPKI dan wakil ketua PPKI.

Pada peristiwa detik-detik proklamasi, Moh. Hatta tampil sebagai tokoh nomor dua dan mendampingi Bung Karno dalam pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Beliau wafat pada tanggal 14 Maret 1980 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta.

  1. Ahmad Subarjo

“ saya menjamin bahwa tanggal 17 Agustus 1945 akan terjadi proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Kalau saudara ragu, nyawa sayalah yang menjadi taruhannya. “ Ucapan yang keluar dari mulut ahmad subarjo untuk meyakinkan golongan muda bahwa proklamasi akan dilaksanakan sesuai dengan desakan para pemuda.

Ahmad Subarjo lahir di Karawang, Jawa Barat pada tanggal 23 Maret 1896. Ia tutup usia pada bulan Desember 1978. Pada masa pergerakan Nasional ia aktif di PI dan PNI. Pada masa pendudukan Jepang, beliau menjadi Kaigun, bekerja pada Kantor Kepala Biro Riset Angkatan Laut jepang pimpinan Laksamana Maeda. Beliau tidak hadir pada saat pembacaan Proklamasi di Pegangsaan Timur No. 56.

  1. Sukarni Kartodiwiryo

Sukarni Kartodiwiryo adalah salah seorang pimpinan gerakan pemuda di masa proklamasi. Beliau dilahirkan di Blitar pada tanggal 14 Juli 1916 dan wafat pada tanggal 4 mei 1971. Semasa pendudukan Jepang, ia bekerja pda kantor berita Domei, menjadi pemimpin gerakan pemuda yang berpusat di Asrama Pemuda Angkatan Baru di Menteng Raya 31 Jakarta.

  1. Sayuti Melik

Beliau dilahirkan pada tanggal 25 November 1908 di Yogyakarta. Beliau berperan dalam pencatatan hasil diskusi susunan teks proklamasi. Ia yang mengetik teks proklamasi yang dibacakan Sukarno-Hatta. Pada tahun 1942, ia menjadi pemimpin redaksi surat kabar Sinar Baru Semarang.

  1. Burhanudin Mohammad Diah

Lahir di Kotaraja pada tanggal 7 april 1917. Pada awal pendudukan Jepang, ia bekerja pada radio militer dan pada tahun 1942-1945, ia bekerja sebagai wartawan harian Asia Raya. Ia berperan aktif dalam upaya penyebarluasan berita proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

  1. Latif Hendraningrat

Beliau adalah salah seorang komandan Peta. Ia yang menjemput beberapa tokoh penting untuk hadir di pegangsaan Timur No. 56, salah satunya ia mencari dan menjemput Moh. Hatta. Latif Hendraningrat dengan dibantu S. Suhud mengibarkan Sang Saka Merah Putih, dan yang membantu membawakan bendera merah putih adalah Sk. Murti.

  1. Suhud

Suhud adalah pemuda yang ditugasi mencari tiang dan ia menggunakan sebatang bambu sebagai tiang bendera. Ia juga bersama Latif Hendraningrat adalah pengibar bendera Merah Putih saat proklamasi 17 Agustus 1945.

  1. Suwiryo

Suwiryo adalah walikota jakarta raya pada masa kemerdekaan dan menjadi ketua penyelenggara upacara proklamasi kemerdekaan. Oleh karena itu, ia sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dalam upacara kemerdekaan.

  1. Muwardi

Muwardi bertugas dalam bidang keamanan jalannya upacara. Ia menugaskan anggota Barisan Pelopor dan Peta dalam menjaga keamanan di kediaman Bung Karno. Setelah Upacara Praklamasi kemerdekaan selesai ia menugaskan anggota Barisan Pelopor dan Peta untuk menjaga Bung Karno dan Moh. Hatta.

  1. Frans Sumarto Mendur

Frans Sumarto Mendur adalah seorang wartawan yang mengabadikan peristiwa penting di sekitar proklamasi. Ia bergabung dengan kawan-kawan dari Indonesia Press Photo Senice atau Ipphos.

  1. Syahrudin

Syahrudin adalah wartawan dari Domei yang berhasil memasuki gedung siaran RRi yang di jaga oleh Jepang, ia berhasil menyerahkan Naskah Proklamasi kepada bagian penyiaran.

  1. F. Wuz dan Yusuf Ronodipuro

Tokoh F. Wuz dan Yusuf Ronodipuro berperan penting dalam penyebarluasan

berita proklamasi. Kedua tokoh ini merupakan penyiar-penyiar yang cukup

berani dan tidak jarang mendapat ancaman dari pihak Kempetai.

KESIMPULAN

  1. proklamasi 17 agustus merupakan perjuangan bersama rakyat indonesia. Banyak tokoh berperan dalam proseses perjuangan tersebut. Bahkan bukan hanya bangsa indonesia, tetapi sebagian bangsa lain juga bersimpati untuk perjuangan bangsa indonesia.
  2. peranan para tokoh dalam proklamasi kemerdekaan berbeda beda. Mereka berperan sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang harus di lakukan.
  3. rakyat indonesia di berbagai daerah mendukung proklamasi kemerdekaan indonesia di buktikan dengan reaksi mereka yang sangat heroik. Keberanian dan kerelaan berkorban di tunjukkan rakyat di berbagai daerah dalam rangka mengambil alih kekuasaan jepang.
  4. Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan perjuangan bersama rakyat Indonesia. Banyak tokoh yang berperan dalam proses perjuangan tersebut. Bahkan bukan hanya bangsa Indonesia, tetapi sebagian bangsa lain juga bersimpati untuk mendukung perjuangan bangsa Indonesia agar mencapai kemerdekaan.
  1. Peranan para tokoh dalam proklamasi kemerdekaan berbeda-beda. Mereka berperan sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimiliki.
  1. Proklamasi 17 Agustus 1945, besar bersama bangsa Indonesia.
  1. Proklamasi 17 Agustus 1945 juga merupakan kehendak dari Tuhan Yang Esa.
  1. Proklamasi 17 Agustus 1945 melibatkan peranan banyak orang. Bahkan bukan hanya bangsa Indonesia, tetapi sebagian bangsa lain juga bersimpati untuk perjuangan bangsa Indonesia.
  1. Para tokoh memiliki peranan berbeda-beda dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Mereka berperan sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang harus dilakukan.
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *